Hikayat Sastra Melayu Klasik
Ular
Kesepian
Pada suatu zaman sebelum adanya kehidupan
manusia, hiduplah seekor ular yang tidak mempunyai teman. Ia sangat kesepian
dan selalu bersedih di tiap hari-harinya. Dia ingin sekali mempunyai teman,
tapi apa boleh buat, jika dia ingin mendekati calon temannya, mereka pasti lari
dan kabur karena takut dimangsa oleh ular. Hatta ular pun berjalan-jalan
mengelilingi hutan sambil meratapi nasibnya yang begitu sedih. Ia pantang
menyerah mencari teman-teman sebayanya yang mau diajak menjalani hidup bersama
dalam suka maupun duka.
Pada saat malam bulan purnama, dan saat
bintang-bintang menghiasi malam yang dingin dan sunyi, ular masih mengelilingi
hutan dengan ditemani angin sepoi-sepoi dan dedaunan yang jatuh dari pepohonan.
Dan akhirnya, ia menemukan sebuah benda yang begitu indah nan bercahaya. Syahdan
ular pun memberanikan diri mendekati benda nan bercahaya tersebut. Ia kira
benda itu merupakan bintang yang jatuh dari langit. Tetapi ketika ia mendekat
dan semakin mendekat, ternyata benda itu terbuat dari kayu dan dapat
mengeluarkan suara-suara merdu nan indah.
Hatta ular pun membawa benda bercahaya layaknya
bintang yang menerangi gelapnya malam
itu kembali ke rumahnya dan menyebut alat itu "kecapi". Dan pada pagi
harinya, Si Ular memainkan alat musik tersebut dengan lihainya. Semua binatang
di dalam hutan pun mendengar suara yang biasanya tidak mereka dengar. Suara
tersebut sangat indah nan merdu hingga membuat mereka menari-nari. Mereka pun
mencari dimana suara merdu itu berasal. Hingga akhirnya mereka menemukan seekor
ular sedang memainkan alat musik yang bercahaya. Binatang-binatang pun
menggerumuni dengan melingkari ular. Ular berada di tengah-tengah kerumunan
layaknya ia sedang berada di pertunjukkan seni dan para binatang menjadi
penontonnya. Dari situ, ular pun mendapatkan banyak sekali teman dan ular
mengajari mereka bagaimana cara memainkan alat yang disebut kecapi itu.
Si Ular senang mempunyai banyak teman dan
akhirnya memutuskan untuk membuat kerajaan. Kerajaan yang damai, adil, dan
tenteram yang disebut dengan Kerajaan Kecapi. Sang Ular menjadi Rajanya, tetapi
Raja Ular sangat ramah karena dia menjadikan pengikutnya sebagai
teman-temannya. Lalu, Raja Ular bersama para pengikutnya membangun istana
kerajaan berbentuk seperti alat musik kecapi. Dan akhirnya, selesailah
pembangunan istana kerajaan tersebut. Raja Ular mengadakan rutinitas
pertunjukkan memainkan alat musik kecapi secara bersamaan setiap hari.
Akhirnya, Raja Ular pun tidak kesepian dan tidak sendiri lagi. Ia hidup bahagia
bersama para pengikutnya yang setia karena keramahannya menjadikan mereka
seperti layaknya teman sebayanya.
Komentar
Posting Komentar