Pemuda Indonesia Bersatu
Pemuda dan Ibu Pertiwi
Bunyi suling terdengar dari arah
timur ketika terbitnya matahari. Matahari pun terbit perlahan menyinari hari
pagi itu. Berproses, bertahap, dan akhirnya matahari berada di titik teratas
ketika jam dua belas. Begitupun juga dengan perjuangan pemuda Indonesia. Dalam
setiap proses dan tahap, pemuda Indonesia kala itu selalu mencintai Ibu
Pertiwi. Selalu mencintai negara dan bangsanya sendiri. Itulah pemuda-pemuda
kebanggaan negeri ini. Kebanggaan Ibu Pertiwi. Mereka datang berbakti.
Menggembirakan Ibu Pertiwi. Menjaga harta pusaka untuk nusa dan bangsa. Yang
jadi pertanyaan, “Siapakah pemuda-pemuda itu?”. Jawabannya, adalah kita semua.
Tidak hanya Sugondo Djojopuspito dari PPPI, tidak hanya R.M. Joko Marsaid dari
Jong Java, tidak hanya Muhammad Yamin dari Jong Sumatranen Bond, dan tidak hanya
Amir Sjarifuddin dari Jong Bataks Bond, tetapi juga kita, ya kita semua, pemuda
reinkarnasi dari mereka semua, generasi penerus mereka semua, putra-putri yang
akan menggembirakan Ibu Pertiwi, yang akan menjaga harta pusaka, untuk nusa dan
bangsa. Kami semua tidak ingin melihat Ibu Pertiwi bersusah hati. Apalagi jika
air matanya sampai berlinang karena ulah kita. Ayo kawan, kita ini pemuda.
Pemuda harapan bangsa. Jadi, marilah kita bangkit bersama, berjuang bersama,
menjaga tanah surga. Janganlah membuang waktumu wahai pemuda, dan jangan pula
berleha-leha.
Ingat apa kata presiden pertama kita Bapak Ir. Soekarno, beliau
berpidato “Perjuanganku lebih mudah
karena mengusir penjajah, tapi perjuanganmu akan lebih sulit karena melawan
bangsamu sendiri.” Bagaimana? Masih ingin berleha-leha? Negeri ini sedang sakit
kawan, negeri ini perlu pengobatan, bukan pengobatan medis oleh dokter, namun
dari kita semua. Ayo, buat negeri ini sembuh, buat negeri ini maju. Ibu Pertiwi
pasti sangat senang dan tersenyum melihat putra putrinya yang setia. Tangisan
dan linangan air matanya (Ibu Pertiwi) akan berubah jadi senyum haru bangga. Mana
suara pemuda dari Sumatera? Mana pula suara putra-putri tanah Borneo,
Kalimantan? Hei, pemuda Jawa, bangun, bergegaslah. Putra-putri tanah Sulawesi
apakah kalian ikut? Pemuda Bali, NTT, dan NTB, ayo kita bersiap. Kami menunggu
kalian putra-putri Papua. Baik, kami sudah berkumpul. Kami sudah siap. Apakah
kalian siap melakukan “Sumpah Pemuda” kawan-kawanku sekalian? Kita terhalang
pandemi COVID-19 untuk berkumpul kembali di Bangunan di Jalan Kramat Raya 106,
tempat dibacakannya Sumpah Pemuda. Namun, itu semua tidak menghalangi kita
semua. Baik kawan, kita baca Sumpah Pemuda ini di dalam diri kita
masing-masing. Di rumah kita masing-masing. Di daerah kita masing-masing. Di
tanah kelahiran kita masing-masing. Serentak. Pada tanggal 28 Oktober 2020. Baca, resapi,
tanamkan, dan amalkan.
Sumpah Pemuda
Pertama, Kami putra dan putri Indonesia,
mengaku bertumpah darah yang satu, tanah air Indonesia.
Kedua, Kami putra dan putri Indonesia, mengaku
berbangsa yang satu, bangsa Indonesia.
Ketiga, Kami putra dan putri Indonesia,
menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia.
Baik, terima kasih kawan.
Setelah itu, mari kita putar lagu Indonesia Raya karya Wage Rudolf Supratman,
lagu kebangsaan kita. Bayangkan kala itu, 28 Oktober 1928, tepat 92 tahun yang
lalu. Lagu kebangsaan ‘Indonesia
Raya’ pertama kali berkumandang. Kala itu, sang pencipta lagu, Wage Roedolf
Soepratman memainkan lagu Indonesia Raya dengan biola kesayangannya. Bagaimana
kawan-kawanku? Semoga dengan peringatan hari Sumpah Pemuda ini dapat menambah jiwa
nasionalisme kalian, para pemuda Indonesia, kebanggaan Ibu Pertiwi. Baik,
terima kasih para jejaka dari Sunda, terima kasih lalakian dan bebinian dari
Banjar, terima kasih Bocah Enom dari Jawa, dan kalian semua dari Sabang sampai
Merauke, dari Miangas sampai Pulau Rote. Ibu Pertiwi bangga dengan kalian.
Salam Pemuda Indonesia.
Komentar
Posting Komentar