Small Things But Big Impact


1.     Ceritakan kisah pertentangan batin dalam hidupmu!

2.     Ceritakan pengamalan perbuatan kecil yang pernah kamu lakukan tetapi berdampak besar!

3.     Ceritakan pengamalan yang menggambarkan bahwa hidup tidak semata-mata tentang materi!

1.          Kisah pertentangan batin dalam hidup saya, lebih seringnya adalah ketika hendak membeli sesuatu barang. Pertarungan antara logika (pikiran), hati (batin), dan hawa nafsu bergejolak. Kadangkala, saya hanya sekadar melihat review gadget di platform YouTube saja bisa tergiur dan terpengaruh dengan barang tersebut. Apalagi, dengan label yang murah namun tetap berkualitas. Judul dan label yang disuguhkan pun unik, seperti laptop BPJS (Budget Pas-pasan Jiwa Sosialita) dan laptop LEMOT (Laptop Editing Murah Oke Terbaik). Dengan spesifikasi yang ditawarkan dan dengan harga yang pas, siapapun bisa tergiur. Namun, setelah itu saya mencoba survey ke toko yang menjual gadget tersebut. Melihat dan ingin membeli sebenarnya. Namun kembali lagi ke diri sendiri, kembali lagi bertanya pada hati, kembali lagi berpikir, dan menahan hawa nafsu untuk membeli barang tersebut. Pikiran berkata, “Hei kamu, apakah barang ini adalah kebutuhan atau sekadar keinginanmu saja?”. Akupun mulai menjawab dalam hati “Hmm, sepertinya ini hanya keinginanku saja”. Namun, hawa nafsu membisik, “Kalau kamu membeli gadget tersebut, kamu bisa merangkum atau meresume semua mata kuliahmu dengan nyaman tanpa menggunakan kertas sehingga lebih ramah lingkungan. Kamu juga bisa memperindah rangkuman itu dengan mudah sehingga menjadikan tulisanmu itu indah dan tampak estetik. Selain itu, kamu juga bisa berkarya dengan gadget itu, seperti membuat cover musik, membuat tulisan, membuat puisi, dan hal-hal yang berkaitan dengan sastra dan musik. Aku tahu kamu menyukainya kan. Dengan membeli gadget ini, kamu bisa menciptakan karya dan lebih produktif. Hmm, sepertinya ini adalah kebutuhanmu, maka belilah gadget tersebut”. Hati kecilku pun ikut berbisik, “Hei, abaikan itu si hawa nafsu, bukankah kamu sudah membaca Q.S. At-Takasur ayat 1 yang artinya “Bermegah-megahan telah melalaikan kamu”. Ayo, serapi dan amalkan ayat tersebut. Maka akupun semakin dibuat bingung. Akhirnya, saya serahkan hal ini kepada Ar-Razzaq, Maha Pemberi Rezeki. Jika Allah berkehendak, maka terjadilah, namun jika tidak, maka tidak akan terjadi.

 

2.           Sebenarnya, perbuatan kecil namun berdampak besar yang pernah saya lakukan adalah ketika saya olahraga dan jogging di pagi hari sambil mendengar musik yang bergenre semangat dan mendengar lantunan ayat suci Qur’an. Mendengarnya pun saya selang-seling dan bergantian. Hari pertama mendengarkan lantunan ayat suci Qur’an dan hari kedua mendengarkan musik yang bergenre semangat begitupun seterusnya. Dengan memulai hari dengan hal atau perbuatan kecil tersebut, sangat berdampak besar terhadap keseharian saya dalam menjalani aktivitas. Dari pagi sampai malam ketika hendak tidur lagi, masih merasakan semangat yang telah dibangun sejak pagi hari tadi. Bahasa kerennya adalah bisa meningkatkan mood. Oiya, di pagi hari yang cerah itu, saat saya jogging, apabila saya berpapasan dengan orang, saya selalu mengucapkan salam atau sekadar menyapa dengan sapaan “Mari, Bu”. “Permisi, Bu”. “Pagi, Bu” dengan disesuaikan dengan orang tersebut. Yang paling sering bahkan selalu berpapasan ketika pagi hari adalah saya dengan Ibu pembersih sampah. Ibu tersebut membawa gerobak, memakai topi caping, sepatu boot, dan memakai masker. Saya pun menyapa sambil tersenyum, “Mari, Bu”. Lalu Ibu yang baik perangainya pun membalas, “Oiya nak hehe”. Sangat lembut Ibu tersebut membalas sapaanku sehingga membuat hatiku tersentuh. Senyumannya begitu ikhlas nan indah. Terbayang raut wajahnya sampai sekarang, detik ini saya menulis tulisan ini. Bahagia pun juga dirasakan olehku ketika mendengar sapaan Ibu dan melihat senyum nan indah yang dibuatnya tadi. Energi positif mengalir di dalam tubuhku sehingga aku selalu merasakan semangat yang membara ketika menjalani aktivitas di setiap harinya.

        Kisah kedua adalah ketika saya menawarkan teman saya untuk menginap di rumah saya. Teman saya itu adalah orang Muara Badak yang ingin melaksanakan tes ujian masuk salah satu Universitas di daerah saya, yaitu Universitas Mulawarman. Saya mempersilahkan dia untuk menginap di rumah saya. Maka ia pun menginap di rumah saya dengan senangnya karena ia tidak perlu mengeluarkan biaya lebih untuk membayar penginapan. Maka, kami pun bertemu. Kami berdua adalah teman SMA yang akrab. Jadi, kami menceritakan kembali hal-hal lucu saat di SMA dan tentunya saling bercerita tentang pengalaman hidup yang kita alami. Perjuangan masuk Perguruan Tinggi. Kitapun saling bercerita dengan santainya. Ketika jam makan, Bunda saya menyiapkan makanan dan kamipun makan. Dia berterima kasih lagi karena ia tidak perlu mengeluarkan biaya untuk makan. Saya sangat bahagia dengan kebahagiaannya itu. Memang, dia kala itu hanya berterima kasih. Namun, saya yakin kebaikan itu pasti akan diingat olehnya. Jadi, dampak nya tidak begitu besar sekarang, namun kita tidak tahu apa yang terjadi kedepannya, apa yang telah ditetapkan dan digariskan Tuhan Yang Maha Esa untuk kita. Bisa jadi dia akan membantumu di kemudian hari. Maka, jangan pernah mengharap imbalan atas semua perbuatan baik kita kepada seseorang karena Tuhan Maha Adil.

 

3.         Saya pernah membaca buku yang berjudul “Time is More Valuable than Money” karya Yoris Sebastian. Di buku itu dijelaskan begitu pentingnya waktu daripada hanya sekadar materi. Dalam agama, hidup tidak semata-mata tentang materi, namun hidup adalah tentang amal perbuatan karena hidup hanya sementara. Sungguh, kita adalah milik Allah dan hanya kepada-Nya lah kita akan kembali (Q.S. Al-Baqarah : 156). Memang, pada dasarnya kenikmatan duniawi apalagi harta dan materi itu nyata. Kembali lagi pada diri sendiri, kita termasuk golongan yang mana. Cerita ini dimulai ketika saya kecil sampai sekarang. Dulu, Ayah dan Bunda saya bekerja, sehingga waktu saya bertemu dengan mereka berdua sangat minim. Apalagi dulu Ayah saya sering berangkat ke luar kota atau daerah. Memang, kebutuhan keluarga tercukupi dan bahkan melebihi. Dengan itu, jika saya membutuhkan apapun, pasti dipenuhi oleh kedua orang tua saya. Mungkin dulu saya bahagia karena bisa membeli mainan yang saya mau, dulu saya bisa membeli makanan apapun itu, namun saya sadar sekarang kehidupanku jauh lebih baik. Mengapa begitu? Karena saya sadar begitu berharganya waktu dengan keluarga dibandingkan dengan materi yang ada. Kehidupan saya dan keluarga saya berubah sejak Bunda saya memutuskan untuk berhenti bekerja pada tahun 2018. Kebahagiaan tercurahkan kepada keluarga saya karena saya dan adik saya bisa bertemu dengan Bunda di setiap harinya. Apalagi adik saya, yang sangat membutuhkan Bunda saya di kala sekolah online ini. Bunda dapat membimbing kami dengan penuh tanpa ada hambatan pekerjaan. Rumah juga semakin tertata rapi dan bersih sejak Bunda di rumah. Meskipun penghasilan berkurang, kami malah lebih senang Bunda ada berada diantara kami semua. Kebahagiaan dan waktu itulah yang tidak bisa dibayar dengan hanya sekadar materi dan uang. Setiap orang hanya punya waktu 24 jam dalam sehari. 8 jam biasanya untuk tidur. 8 jamnya lagi untuk beraktivitas (bekerja atau kuliah atau sekolah). Nah, sisa 8 jam inilah yang bisa kita manfaatkan waktu kita untuk keluarga, teman, sahabat, tetangga, dan yang terpenting adalah beribadah kepada Tuhan Yang Maha Esa. Memang, jika kita tidak mempunyai materi, kita tidak bisa membeli suatu barang, namun ada yang tidak bisa dibeli dengan uang, yaitu waktu. Dari uraian dan cerita saya tersebut, maka saya sangat yakin bahwa hidup tidak semata-mata karena materi.




Komentar

Postingan Populer