Small Things But Big Impact
1. Ceritakan kisah pertentangan batin dalam hidupmu!
2. Ceritakan pengamalan perbuatan kecil yang pernah
kamu lakukan tetapi berdampak besar!
3. Ceritakan pengamalan yang menggambarkan bahwa hidup tidak semata-mata tentang materi!
2. Sebenarnya,
perbuatan kecil namun berdampak besar yang pernah saya lakukan adalah ketika
saya olahraga dan jogging di pagi hari sambil mendengar musik yang bergenre
semangat dan mendengar lantunan ayat suci Qur’an. Mendengarnya pun saya selang-seling
dan bergantian. Hari pertama mendengarkan lantunan ayat suci Qur’an dan hari
kedua mendengarkan musik yang bergenre semangat begitupun seterusnya. Dengan
memulai hari dengan hal atau perbuatan kecil tersebut, sangat berdampak besar
terhadap keseharian saya dalam menjalani aktivitas. Dari pagi sampai malam
ketika hendak tidur lagi, masih merasakan semangat yang telah dibangun sejak
pagi hari tadi. Bahasa kerennya adalah bisa meningkatkan mood. Oiya, di pagi
hari yang cerah itu, saat saya jogging, apabila saya berpapasan dengan orang,
saya selalu mengucapkan salam atau sekadar menyapa dengan sapaan “Mari, Bu”.
“Permisi, Bu”. “Pagi, Bu” dengan disesuaikan dengan orang tersebut. Yang paling
sering bahkan selalu berpapasan ketika pagi hari adalah saya dengan Ibu
pembersih sampah. Ibu tersebut membawa gerobak, memakai topi caping, sepatu
boot, dan memakai masker. Saya pun menyapa sambil tersenyum, “Mari, Bu”. Lalu
Ibu yang baik perangainya pun membalas, “Oiya nak hehe”. Sangat lembut Ibu
tersebut membalas sapaanku sehingga membuat hatiku tersentuh. Senyumannya
begitu ikhlas nan indah. Terbayang raut wajahnya sampai sekarang, detik ini
saya menulis tulisan ini. Bahagia pun juga dirasakan olehku ketika mendengar
sapaan Ibu dan melihat senyum nan indah yang dibuatnya tadi. Energi positif
mengalir di dalam tubuhku sehingga aku selalu merasakan semangat yang membara
ketika menjalani aktivitas di setiap harinya.
Kisah kedua adalah ketika saya menawarkan teman saya
untuk menginap di rumah saya. Teman saya itu adalah orang Muara Badak yang
ingin melaksanakan tes ujian masuk salah satu Universitas di daerah saya, yaitu
Universitas Mulawarman. Saya mempersilahkan dia untuk menginap di rumah saya. Maka
ia pun menginap di rumah saya dengan senangnya karena ia tidak perlu
mengeluarkan biaya lebih untuk membayar penginapan. Maka, kami pun bertemu.
Kami berdua adalah teman SMA yang akrab. Jadi, kami menceritakan kembali
hal-hal lucu saat di SMA dan tentunya saling bercerita tentang pengalaman hidup
yang kita alami. Perjuangan masuk Perguruan Tinggi. Kitapun saling bercerita
dengan santainya. Ketika jam makan, Bunda saya menyiapkan makanan dan kamipun
makan. Dia berterima kasih lagi karena ia tidak perlu mengeluarkan biaya untuk
makan. Saya sangat bahagia dengan kebahagiaannya itu. Memang, dia kala itu
hanya berterima kasih. Namun, saya yakin kebaikan itu pasti akan diingat
olehnya. Jadi, dampak nya tidak begitu besar sekarang, namun kita tidak tahu
apa yang terjadi kedepannya, apa yang telah ditetapkan dan digariskan Tuhan
Yang Maha Esa untuk kita. Bisa jadi dia akan membantumu di kemudian hari. Maka,
jangan pernah mengharap imbalan atas semua perbuatan baik kita kepada seseorang
karena Tuhan Maha Adil.
3.
Saya pernah
membaca buku yang berjudul “Time is More Valuable than Money” karya Yoris
Sebastian. Di buku itu dijelaskan begitu pentingnya waktu daripada hanya
sekadar materi. Dalam agama, hidup tidak semata-mata tentang materi, namun
hidup adalah tentang amal perbuatan karena hidup hanya sementara. Sungguh, kita
adalah milik Allah dan hanya kepada-Nya lah kita akan kembali (Q.S. Al-Baqarah
: 156). Memang, pada dasarnya kenikmatan duniawi apalagi harta dan materi itu
nyata. Kembali lagi pada diri sendiri, kita termasuk golongan yang mana. Cerita
ini dimulai ketika saya kecil sampai sekarang. Dulu, Ayah dan Bunda saya bekerja,
sehingga waktu saya bertemu dengan mereka berdua sangat minim. Apalagi dulu
Ayah saya sering berangkat ke luar kota atau daerah. Memang, kebutuhan keluarga
tercukupi dan bahkan melebihi. Dengan itu, jika saya membutuhkan apapun, pasti
dipenuhi oleh kedua orang tua saya. Mungkin dulu saya bahagia karena bisa
membeli mainan yang saya mau, dulu saya bisa membeli makanan apapun itu, namun
saya sadar sekarang kehidupanku jauh lebih baik. Mengapa begitu? Karena saya
sadar begitu berharganya waktu dengan keluarga dibandingkan dengan materi yang
ada. Kehidupan saya dan keluarga saya berubah sejak Bunda saya memutuskan untuk
berhenti bekerja pada tahun 2018. Kebahagiaan tercurahkan kepada keluarga saya
karena saya dan adik saya bisa bertemu dengan Bunda di setiap harinya. Apalagi
adik saya, yang sangat membutuhkan Bunda saya di kala sekolah online ini. Bunda
dapat membimbing kami dengan penuh tanpa ada hambatan pekerjaan. Rumah juga
semakin tertata rapi dan bersih sejak Bunda di rumah. Meskipun penghasilan berkurang,
kami malah lebih senang Bunda ada berada diantara kami semua. Kebahagiaan dan
waktu itulah yang tidak bisa dibayar dengan hanya sekadar materi dan uang.
Setiap orang hanya punya waktu 24 jam dalam sehari. 8 jam biasanya untuk tidur.
8 jamnya lagi untuk beraktivitas (bekerja atau kuliah atau sekolah). Nah, sisa
8 jam inilah yang bisa kita manfaatkan waktu kita untuk keluarga, teman,
sahabat, tetangga, dan yang terpenting adalah beribadah kepada Tuhan Yang Maha
Esa. Memang, jika kita tidak mempunyai materi, kita tidak bisa membeli suatu
barang, namun ada yang tidak bisa dibeli dengan uang, yaitu waktu. Dari uraian
dan cerita saya tersebut, maka saya sangat yakin bahwa hidup tidak semata-mata
karena materi.
Komentar
Posting Komentar